Penguatan Nilai Sosial, Praktik Keagamaan, dan Pelestarian Budaya Lokal melalui Majelis Taklim Nurul Huda Kepanjen Surakarta
Keywords:
nilai sosial, praktik keagamaan, budaya lokal, majelis taklim, pemberdayaan masyarakatAbstract
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis penguatan nilai sosial, praktik keagamaan, serta pelestarian budaya lokal melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Majelis Taklim Nurul Huda Kepanjen Surakarta. Latar belakang kegiatan ini didasarkan pada semakin melemahnya kohesi sosial, menurunnya kualitas praktik keagamaan yang kontekstual, serta berkurangnya perhatian terhadap pelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi. Kegiatan pengabdian dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif berbasis diseminasi, yang melibatkan jamaah majelis taklim sebagai subjek aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi nilai-nilai sosial dan keagamaan, penguatan praktik ibadah yang kontekstual, serta revitalisasi budaya lokal melalui kegiatan berbasis komunitas. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa majelis taklim memiliki peran strategis dalam memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan kualitas praktik keagamaan, serta menjadi ruang pelestarian budaya lokal yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Dengan demikian, model pengabdian berbasis majelis taklim ini dapat menjadi alternatif dalam penguatan nilai sosial, keagamaan, dan budaya secara berkelanjutan.
References
Azra, A. (2012). Pendidikan Islam: Tradisi dan modernisasi di tengah tantangan milenium III. Jakarta: Kencana.
Chambers, R. (1995). Poverty and livelihoods: Whose reality counts? Environment and Urbanization, 7(1), 173–204. https://doi.org/10.1177/095624789500700106
Eade, D. (2007). Capacity building: Who builds whose capacity? Development in Practice, 17(4–5), 630–639. https://doi.org/10.1080/09614520701469807
Geertz, C. (1960). The religion of Java. University of Chicago Press.
Giddens, A. (1990). The consequences of modernity. Stanford University Press.
Ife, J., & Tesoriero, F. (2008). Community development: Community-based alternatives in an age of globalization (3rd ed.). Pearson Education.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Rahman, F. (1982). Islam and modernity: Transformation of an intellectual tradition. University of Chicago Press.
Sachs, J. D. (2015). The age of sustainable development. Columbia University Press.
Nasr, S. H. (2007). Islamic philosophy from its origin to the present. State University of New York Press.
Freire, P. (2000). Pedagogy of the oppressed (30th anniversary ed.). Continuum.
Kabeer, N. (2005). Gender equality and women's empowerment: A critical analysis. Gender & Development, 13(1), 13–24. https://doi.org/10.1080/13552070512331332273
Leach, M., Scoones, I., & Stirling, A. (2010). Dynamic sustainabilities: Technology, environment, social justice. Environment and Planning C: Government and Policy, 28(4), 625–639. https://doi.org/10.1068/c09126
Pretty, J. (2003). Social capital and the collective management of resources. Science, 302(5652), 1912–1914. https://doi.org/10.1126/science.1090847
Tilbury, D. (2011). Education for sustainable development: An expert review of processes and learning. UNESCO.
Sen, A. (1999). Development as freedom. Oxford University Press.
Hidayat, K. (2015). Psikologi spiritual: Menyelaraskan potensi akal dan hati. Jakarta: Noura Books.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Sage Publications.
